Jumat, 11 November 2022

 POTENSI BUDIDAYA UDANG GALAH


Udang galah (Macrobrachium rosenbergii de Man) merupakan salah satu komoditas perikanan air tawar yang mempunyai nilai ekonomis tinggi.Oleh karena itu, berbagai penelitian telah dilakukan untuk meningkatkan produksi udang galah tersebut. Dengan meningkatnya produksi udang galah, maka kebutuhan masyarakat akan protein hewani diharapkan dapat terpenuhi. Selain mempunyai cita rasa yang khas yang berbeda dari udang tambak lainnya, udang galah ini harganya relatif murah dibandingkan dengan udang windu, sehingga mudah terjangkau oleh masyarakat kecil.

Prospek pengembangan budidaya udang galah diperkirakan lebih baik daripada ikan konsumsi dan jenis udang lainnya.Prediksi tersebut dilandasi oleh semakin tingginya tingkat konsumsi ikan (termasuk udang) per kapita per tahun penduduk dunia. Menurut FAO, sampai tahun 2010, pasar dunia masih kekurangan pasokan ikan (termasuk udang) sebesar 2 juta ton/tahun. Pasokan ikan sebesar itu tidak mungkin dipenuhi hanya dari hasil tangkapan alam, tetapi harus dipasok dari hasil budidaya.

Agar produksi udang galah meningkat, maka kita harus memperhatikan kesehatan pada udang tersebut, karena jika udang sehat, maka produksinya pun akan meningkat.

Menurut Hadie Wartono dan Supriatna Jatna (1984), udang galah memiliki klasifikasi sebagai berikut :

v  Phyllum                 : Arthopoda

v  Sub Phyllum          : Mandibulata

v  Class                      : Crustaceae

v  Sub Class               : Malacostraca

v  Ordo                       : Decapoda

v  Sub Ordo                : Natantia

v  Familly                   : Palaemonidae

v  Genus                     : Macrobrachium

v  Spesies                   : Macrobrachium rosenbergii

 

Menurut Hadie Wartono dan Supriatna Jatna (1984) ,badan udang galah seperti juga udang lainnya, terdiri dari ruas-ruas (segmen) yang diliputi oleh kulit yang keras. Badan udang dapat dibagi atas tiga bagian besar, yakni kepala dan dada (cephalothorax), badan (abdomen) dan ekor (uropoda).

Menurut Hadie Wartono dan Supriatna Jatna (1984), cephalothorax dibungkus oleh kulit yang keras (carapace). Pada bagian depan kepala terdapat penonjolan carapace yang bergerigi dan disebut rostrum. Walaupun kegunaan yang pasti belum dapat dijelaskan, namun bila dilihat secara taksonomis rostrum tersebut mempunyai fungsi yang besar, yaitu sebagai penunjuk spesies (jenis).Udang galah mempunyai 11-13 buah gigi rostrum di bagian atas dan 8-14 buah gigi rostrum di bagian bawah. Inilah yang membedakan dengan jenis lain pada udang air tawar. Pada bagian dada terdapat lima pasang kaki jalan. Pada udang galah, pasangan kaki jalan yang kedua tumbuh sangat besar dan bahkan dapat mencapai 1,5 kali panjang badan. Ciri ini sangat khas terutama pada udang jantan, sedang pada udang betina pertumbuhan kaki ini tidak begitu besar. 

Bagian badan (abdomen) terdiri dari lima ruas, masing-masing dengan sepasang kaki renang (pleopoda). Pada udang betina tempat tersebut merupakan tempat pengeraman telur (brood chamber) setelah telur dibuahi, sedang pada udang jantan terdapat appendix masculina.

Bagian ekor (uropoda) merupakan ruas terakhir dari ruas badan yang kaki renangnya bermodifikasi menjadi uropoda (exopoda dan endopoda) dan diakhiri dengan telson.

Dalam siklus hidupnya udang galah dapat menempati dua habitat yang berbeda yakni air payau pada fase larva dan air tawar pada fase muda dan dewasa. Udang galah dewasa merupakan penghuni sungai-sungai yang ada hubungannya dengan laut serta perairan sekitarnya seperti : rawa, waduk, danau dan sebagainya. Hal tersebut berhubungan erat dengan siklus hidupnya, bahwa larva harus segera mendapatkan perairan payau segera setelah menetas paling lambat 3-5 hari. Larva akan berkembang hingga mencapai juvenil di perairan payau dan kemudian bermigrasi ke perairan tawar, ke sungai dan sebagainya.

Di alam udang galah dapat berpijah di daerah air tawar pada jarak lebih dari 100 km dari muara / laut dan membiarkan larvanya ikut terbawa aliran sungai mencapai laut dengan resiko kematian yang tinggi.

SISTEM PEMELIHARAAN

1.    Sistem pemeliharaan tunggal (monkulter). 

Pada pemerilhaarann udang galah secar tunggal, kolam yang dipergunakan sebaiknya berukuran lebih dari 500 M2 dan kedalaman air minimal 1,0 M. Dasar kolam pemeliharaan adalah tanah yang sedikit berpasir, sedangkan pematang kolam dapat berupa tanah atau tembokan semen.Air yang digunakan untuk pemeliharaan harus bebas polusi, baik yang berasla dari limbah produksi, pabrik pertanian maupun rumah tangga. Debit air yang diperlukan adalah 1 – 5 liter per detik untuk luasan 1000 m2. 

2.    Sistem pemeliharaan campuran (polikultur)

Pemeliharaan udang galah dengan system polikultur banyak dilakukan oleh pembudidaya. Kombinasi yang dianjurkan adalah dengan ikanikan jenis herbivore (pemakan tumbuhan) seperti tawes, gras crap dan gurami. Perlakuan kolam untuk pemeliharaan campuan tersebut hamper sama dengan yang dilakukan untuk pemeliharaan tunggal. Diperlukan air yang mengalir secar tetap dan pemupukan dengan kadar lebih tingg dari 100-250 gram/m2 ditambah makan buatan (pellet).Sistem pemeliharaan tunggal (monokultur). 

Pada pemerilhaaran udang galah secara tunggal, kolam yang dipergunakan sebaiknya berukuran lebih dari 500 M2 dan kedalaman air minimal 1,0 M. Dasar kolam pemeliharaan adalah tanah yang sedikit berpasir, sedangkan pematang kolah dapat berupa tanah atau tembokan semen.

PERSIAPAN KOLAM 

Persiapan kolam pemeliharaan udang galah meliputi pengeringan kolam, perbaikan pematang, pengolahan tanah dasar kolam, perbaikan pematang, pengolahan tanah dasar kolam, dan pembuatan kemalir.Pengapuran dengan dosis 10-25 gram/m2 bertujuan untuk sanitasi kolam. Pemupukan sebanyak 100-250 gram/m2 dpat dilakukan bila udang hanya diberi sedikit makanan tambahan, tetapi bila makanan tambahan penuh diberikan, pemumpukan kolah tidak perlu dilakukan.Untuk mencegah hewan liar, pada saluran pemasukan diberikan saringan/filter.Penebaran udang dilakukan setelah 5 s.d 7 hari dari pengisian air kolam.

PENEBARAN BENIH 

Benih udang galah yang ditebarkan sebaiknya berukuran tokolan suapay lebih tahan dibandingkan juvenile.Padar penebaran pada sistem pemeliharaan tunggal adlah 5-10 ekor/m2 untuk tokolam berukuran 3-5 cm. 

Menurut James P. Mc.Vey,Ph.D bahwa padat penebaran benih udang galah dapat 15 ekor per m2 apabila kondisi air dan makanan tambahan cukup, tetapi apabila ada cukup air, tidak ada makanan tambahan (makan udang hanya dari pemupukan saja), maka kepadatan benih udang hanya 10 ekor per/m2, tetapi bila tidak ada air yang cukup dan juga tidak tersedia pupuk untuk kolam maka dapat dicoba kepadatan 2 ekor udang per m2. 

Padat penebarab per m2 yang dianjurkan pada pemeliharaan polikultur dengan pemupukan organic dan tambahan tumbuhan  adalah 10 ekor udang galah ditambah pupuk organic saja,. Untuk pemeliharaan udang galah dengan system pemanenan secara bertahap, dapat dilakukan penebaran ulang pada setiap panen 50% dari jumlah udang yang dipanen. 

PEMBERIAN MAKANAN 

Selama pemeliharaan, udang galah diberi makanan tambahan berupa pellet (25% protein) dengan jumlah pakan 5% dari berat total biomas populasi udang per hari. Frekwensi pemberiannya adalah 2 kali perhari, yaitu pada sore hari dan malam hari, karena pada waktu itu udang lebih aktif.

Untuk menentukan jumlah berat populasi udang yang ada yaitu dengan cara mengambil sedikit udang untuk sample yang kemudian kita bisa mengetahui berat rara-ratanya. Berat rata-rata tadi dikalikan dengan jumlah  yang diperkirakan ada didalam kolam untuk mendapatkan jumlah berat seluruhnya. Jumlah pemberian 5% per hari harus disesuaikan setiap dua minggu sekali.Apabila semua dalam keadaan baik untuk pertumbuhan udang kita bisa mengharapkan mortalitas hanya lebih kurang 5% per bulannya. Dengan demikian dapat diperkirakan jumlah udang yang akan dapat dipanen dengan mengurangi 5% tiap bulannya.

PENGELOLAAN AIR 

Pada kolam pemeliharaan udang galah, untuk menjaga kesehatan udang, kualitas dan kuantitas air harus selalu dipantau. Biasanya untuk pemeliharaan udang system tunggal, kualitas air cenderung menurun (jelek) setelah 1 bulan mas pemeliharaan. Untuk memperbaiki kualitas air tersebut dapat ditebarkan ikan-ikan jenis pemakan plangton dengan kepadatan rendah. Kualitas air  yang redah ditandai dengan banyaknya udang dipermukaan pada pagi hari. Cara lain yang dapat ditempuh adalah dengan mengganti jumlah air sebanyak sepertiga bagian dengan air baru.

PENYAKIT 

Penyakit udang yang paling serius adalah yang disebabkan oleh ingkungan dan keadaan yang tidak menyenangkana seperti terlalu padat, kekurangan makanan, penanganan yang tidak baik dan sebagainya. Berarti cara penanggulangan yang paling baik dan efektif ialah dengan memberikan kondisi yang terbaik pada kolam udang. Sekali kolam dilanda penyakit yang serius maka biasanya terlambat untuk untuk melakukan tindakan apapun. Penyembuhan dengan memberikan anti biotika atau fungisida keseluruh kolam mahal sekali biayanya.Oleh karena itu lebih murah untuk mengeringkan kolam dan mulai menyiakan dari permulaan. 

PEMANENAN

Setelah masa pemeliharaan 3 sampai 5 bulan udang dapat diapanen. Pada saat panen total ukurang bervariasi beratnya yaitu 20 – 50  gram per ekor. Sistem pemanenan dapat dilakukan secar bertahap dimanan hanya dipilih ukuran konsumsi isi 30 sampai 40 ekor/kg (ukuran pasar).Pada tahap pertama dilakukan setelah 2 bulan masa pemeliharaan (dari tokolan) dengan menggunakan jarring dan setaip bulan berikutnya.Produksi udang galah dapat menncapai 2 sampai 40 ton/hektar. Tehnik memanen yang paling mudah dan paling murah adalah dengan mengeringkan kolam baik sebagian maupun menyeluruh. Biasanya apabila akan  memanen seluruh udang maka  kolam dikeringkan sama sekali, tetapi kalau akan memanen sebagian air yang dibuang.

Pada saat pemanenan sebaiknya dimasukkan air segar kedalam kolam melalui saluran air masuk. Selain itu pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi hari dimana temperatur masih rendah.Air segar perlu dialirkan kedalam kolam untuk mencegah agar udang tidak mati kepanansan, air dibuang melalui pusat saluran pembuangan dalam kolam sehingga semua udang akan mengumpul didalam bak penangkap ataupun dalam saluran kemudian ditangkap dengan menggunakan jarring kecil (serok). Setelah itu dimasukkan kedalam ember yang diisi es atau dalm kemasan yang telah disiapkan dan dikirimkan ke pasaran. Apabila dipanen seluruhnya maka kolam harus dikeringkan dan disiapkan lagi untuk pemeliharaan berikutnya.


DAFTAR  PUSTAKA :

Dalimartha, Setiawan. 2004. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Puspa Swara. Jakarta.

Hadie, Wartono dan Supriatna, Jatna, 1984.Pengembangan Udang Galah Dalam Hatchery Dan Budidaya, Edisi Ke-2, Penerbit Kanisius, Jakarta.

Khairuman dan Amri, Khairul, 2004.Budidaya Udang Galah Secara Intensif. Agromedia Pustaka, Jakarta.

Riswan, Iwan, 2002. Prospek dan Peluang Usaha Pembenihan Udang Galah. Majalah Mina Samudra,

 

Rabu, 12 Oktober 2022

 POTENSI BUDIDAYA UDANG ROTRIS



Udang rostris (Litopenaeus stylirostris) berasal dari kawasan Amerika Latin khususnya dari negara Mexico, mempunyai prospek pasar internasional yang cukup baik bagi dunia usaha dan sudah banyak diproduksi secara massal dengan menerapkan teknologi sederhanahingga intensif oleh beberapa negara di Amerikan dan Asia. Informasi yang didapat dari hasil kajian dan hasil produksi di beberapa negara produsen, bahwa udang rostris menunjukkan keunggukan-keunggulan sebagai berikut:

  • Laju pertumbuhan yang menyerupai udang windu (dapat mencapai ukuran 30 gr/4 bulan).
  • Toleran terhadap suhu rendah dan perubahan salinitas (khususnya pada salinitas tinggi).
  • Toleran terhadap lingkungan yang ekstrim (kindisi tanah gambut dan kondisi lainnya).
  • Pemicu munculnya penyakit pada udang rostris ada tiga, faktor yakni menurunnya kualitas lingkungan pemeliharaan, adanya jasad patogen, dan kondisi udang yang lemah. Bila udang rostris terserang penyakit dapat dipastikan ditimbulkan oleh beberapa faktor tersebut. Untuk mencegah dan mengobatinya maka harus diketahui faktor penyebabnya.

Klasifikasi dari udang rostris (Litopenaeus stylirostris) adalah sebagai berikut :

v Sub Phyllum          : Crustacea

v Kelas                      : Malacostraca

v Ordo                      : Decapoda

v Famili                    : Penaidae

v Genus                    : Litopenaeus

v Species                  : Litopenaeus stylirostris

Ciri morfologi udang rostris ini tidak berapa beda dengan deskripsi udang pada umumnya. Secara jelas yang tampak adalah udang ini berwarna biru kehitaman, keki renang merah kebiru-biruan, rostrum panjang bergigi 7 pada bagian atas (dorsal) dan 1 gigi lunak yang berkembang di bagian ventral.

PERSIAPAN AIR MEDIA

            Dalam persiapan air media awal sudah dianggap baik apabila kondisi parameter kualitas air dan kelimpahan plankton tidak mengalami goncangan (fluktuasi) yang mencolok. Tahapan dalam persiapan air media awal adalah sebagai berikut :

  • Pengamatan parameter kualitas tanah (pH : 6,5-7,5 ; kandungan bahan organic 8-10 %). Tujuan dari pengamatan parameter kualitas tanah ini adalah untuk mengetahui kondisi tanah tersebut sudah layak atau belum bagi kebutuhan biologis udang yang akan dipelihara.
  • Pengisian air seluruh komponen petakan tambak hingga mencapai ketinggian yang optimal (1,2-1,4 m), dilakukan pada saat kondisi air laut sedang pasang tinggi. Kemudian air dibiarkan 2-5 hari dengan tujuan untuk mengetahui tingkat porositas tanah dan tingkat evaporasi (penguapan) air pada petakan tambak yang akan dioperasionalkan.
  • Sterilisasi air media dengan kaporit berkisar antara 25-30 ppm dan ditebar merata, kemudian diaerasi (dikincir) yang kuat selama 3-5 jam. Pengadukan dengan kincir bertujuan agar kaporit yang diaplikasikan tersebar secara merata hingga ke dasar tambak, sehingga air media tersebut dapat segera steril.
  • Pengamatan parameter kualitas air, seperti pH (7,5-8,5), suhu (28o-31o C), dan salinitas (15-35 ppt), serta parameter air lainnya. Pengukuran parameter kualitas air ini bertujuan untuk mengetahui kondisi kualitas air secara awal, sehingga pada saat penebaran benur dapat disesuaikan (untuk proses adaptasi penebaran benur).

PEMILIHAN DAN PENEBARAN BENIH

Apabila kondisi air media sudah siap dalam artian baik kondisi parameter kualitas air dan kondisi kelimpahan plankton, maka segera dapat dilakukan penebaran benih.

Pemilihan standar benih udang rostris adalah sebagai berikut :

-      Ukuran diusahakan seragam.

-      Gerakan lincah dan menantang arus.

-      Respon terhadap gerakan.

-      Warna tubuhnya putih transparan.

-      Kaki dan kulit bersih.

-      Isi usus tidak putus, dan

-      Adaptif (tahan) terhadap perubahan salinitas.

Benih udang rostris yang ditebar adalah ukuran PL-15 atau ukuran tokolan (sebesar pentol korek api) dan sudah dalam kondisi bebas virus. Standar baku benih yang baik adalah setelah dipilah dengan formalin, kematiannya maksimal tidak lebih dari 5 %. Benih tersebut diangkut ke tambak dan kemudian sebelum ditebar terlebih dahuludiadaptasikan terhadap parameter kualitas air yaitu suhu, salinitas, pH, dan parameter lainnya secara perlahan-lahan selama 5-15 menit.

Waktu penebaran yang baik diusahakan pagi hari (jam 0500- 0700). Dengan padat penebaran yang optimal pada pembesaran udang rostris dengan teknologi intensif pada system ini adalah berkisar antara 25-50 ekor/m2 (tergantung factor daya dukung lahan dan sarana penunjang lainnya).

 MASA PEMELIHARAAN

Selama masa pemeliharaan udang rostris berlangsung (masa operasional berjalan) perlakuan dan pengamatan sangatlah menentukan tingkat keberhasilan. Untuk itu, dalam kurun waktu tersebut ada beberapa kegiatan, perlakuan, dan pengamatan penting yang perlu diperhatikan, yaitu :

-     Pengaturan dan pemberian pakan.

-     Manajemen plankton.

-     Pengelolaan air dan lumpur.

-     Pengamatan kondisi dan pertumbuhan udang.

 

DAFTAR  PUSTAKA :

Junaidah, S., 2004. “Petunjuk Teknis Pembenihan Udang Rostris”. Dirjen Perikanan Budidaya. BBPBAP Jepara.

Kokarkin, C., 2002. “Petunjuk Teknis Budidaya Udang Rostris”. Dirjen Perikanan. Jakarta.

Basri H. dan Syafei L.S, 2005. Buku Seri Kesehatan Ikan “Udang Rostris Sehat Produksi Meningkat”. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Jurusan Penyuluhan Perikanan, Bogor.

 

Jumat, 09 September 2022

 PENANGANAN DAN PENGOLAHAN TERIPANG



A. Peralatan yang diperlukan

  • Wadah penampungan. Penampungan teripang yang baru ditangkap dapat dilakukan dengan menggunakan perahu atau juga tong plastik maupunwadah berinsulasi. Penggunaan tong plastik atau wadah berinsulasi sekaligus dapat langsung digunakan untuk wadah selama transportasi.
  • Wadah pencucian. Wadah pencucian dapat berupa drum yang terbuat dari aluminium, plastik ataupun fibreglass dan tidak dianjurkan menggunakan wadah yang terbuat dari bahan yang mudah berkarat, seperti seng
  • Pisau pembelah. Pisau pembelah harus tidak terbuat dari bahan yang mudah berkarat (sebaiknya stainless steel), kuat dan tajam dengan bagian ujung yang runcing.
  • Wadah perebusan. Wadah perebusan harus terbuat dari aluminium atau stainless steel dengan ukuran yang disesuaikan kapasitas pengolahan.
  • Alat pengasapan. Alat pengasapan dapat berupa alat pengasap terbuka, drum pengasap, lemari pengasapan ataupun rumah pengasapan. Alat pengasapan terbuka tidak dianjurkan mengingat alat ini sulit dalam pengontrolan suhu, dapat terkontaminasi kotoran dari luar dan pemakaian asap tidak efisien (banyak terbuang).
  • Alat pengeringan. Pengeringan dapat menggunakan sinar matahari diatas para-para dengan ketinggian= 1 meter, atau menggunakan alat pengering mekanis (mechanical dryer).

B.Teknik Penanganan dan Pengolahan

Untuk mendapatkan mutu teripang kering yang baik, maka cara pemilihan dan penanganan bahan baku, cara penanganan awal, cara pengolahan dan penggudangan harus. Kesalahan yang mungkin tidak disengaja ataupun yang tidak diketahui dapat mengakibatkan kerugian yang sangat besar.

Pada umumnya teripang kering yang dihasilkan nelayan pengolah tradisional masih belum baik mutunya, sehingga seringkali masih harus diperbaiki mutunya oleh para pengumpul atau eksortir. Perbaikan mutu tersebut biasanya berupa pembersihan dari kotoran yang menempel pada teripang dan dilakukan pengeringan tambahan, karena teripang tersebut masih belum cukup kering atau menjadi basah kembali selama dalam penggudangan karena sifatnya yang higroskopis.

a)   Pemilihan dan penanganan bahan baku

Bahan baku teripang sebaiknya berupateripang hidup yang ditangkap dari perairan yang tidaktercemar. Mengingat teripang biasanya hidup di dasar perairan, kemungkinan tercemar logam berat seperti mercuri ( Hg ), timbal (Pb), Cadmium ( Cd ) dll, selalu ada apabila perairan disekitarnya telah tercemar.

Dalam penangkapan/pemanenan teripang bisanya dilakukan dengan cara menyelam dan menangkapnya langsung dengan tangan. Sebagian nelayan melakukan penangkapan dengan menggunakan tombak atau trisula, sehingga cara penangkapan ini dapat melukai teripang dan mengakibatkan teripang mati dan cepat mengalami pembusukan. Selain itu, adanya luka akan membuat penampakan pada produk akhir tidak baik, yang umumnya tidak disukai pembeli.

Teripang yang akan diolah diusahakan dipertahankan dalam kondisi hidup, apabila kondisi hidup teripang sulit dipertahankan sampai ke unit pengolahan, misalnya karena jauhnya lokasi penangkapan atau karena faktor lain, maka sebaiknya segera dilakukan pembuangan isi perut, segera dicuci bersih dan diberi garam 3 – 10% dari berat teripang. Untuk mempertahankan teripang tetap hidup,dapat dilakukan dengan memasukkan teripang kedalam wadah penampungan yang berisi air laut bersih.

b)   Pembuangan isi perut (eviscerasi).

Pembuangan isi perut dapat dilakukan pada teripang mentah atau setelah perebusan. Cara yang kedua lebih mudah dilakukan, karena teksturnya lebih kenyal, akan tetapi dianjurkan untuk melakukan cara yang pertama, yaitu pembuangan perut isi perut sebelum perebusan, walaupun memerlukanteknikdsn ketrampilan agar belahan/ irisan dapat rapi.

Pengeluaran isi perut dilakukan dengan cara pembelahan melalui irisan pada bagian perutnya memanjang denganpanjangsecukupnya. Pisau yang digunakan harus tajam dan tipis.

Isi perut dikeluarkan dan segera dicuci bersih pada bagian dinding perut sampai bebas dari darah dan sisa isi perut. Air yang digunakan dapat berupa air tawar atau air laut yang bersih dan kalau memungkinkan digunakan air mengalir atau menggunakan air dalam bak yang sering diganti.

Beberapa nelayan pengolah membuang isi perut teripang dengan cara melubangi pada bagian ujung teripang dengan alat pelubang dari bambu atau kayu dan kemudian isi perut dikeluarkan dengan cara menekan (memeras) tubuh teripang. Cara seperti ini kurang baik, karena isi perut tidak dapat dikeluarkan seluruhnya dan sisa isi perut akan mempercepat proses pembusukan. Disamping itu akibat penekanan (pemerasan) akan merusak tekstur dan penampakan produk akhir.

c)   Perebusan

Perebusan teripang bertujuan untuk membuat tekstur teripang menjadi kenyal, memberikan sedikit rasa asin yang sekaligus dapat berfungsi untuk membunuh dan mencegah tumbuhnya mikro organisme pembusuk. Perebusan dilakukan dalam air mendidih dengan konsentrasi garam ±15% selama 20 – 30 menit tergantung dari besar dan jumlah teripang sampai semua teripang menjadi kenyal teksturnya. Setelah perebusan selesai dilakukan penirisan sampai tidak ada lagi air yang menetes dan selanjutnya diteruskan dengan pengasapan.

d)   Pengasapan

Pengasapan dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi (menurunkan) kadar air, disamping itu pengasapan juga berfungsi memberikan rasa dan bau (flavour) yang spesifik yang umumnya dikehendaki oleh konsumen. Pengasapan dapat dilakukan dengan alai pengasapan (lemari pengasap) selama 10 – 20 jam dengan ketebalan asap sedang dan suhu 60 – 80° (pengasapan panas).

Biasanya para nelayan pengblah tradisional menggunakan alat pengasap terbaka, cara ini kurang baik disamping sulit dikontrol suhunya, teripang.¢ang diesap juga akan terkena kotoran dari luar serta pemakaian asapnya menjadi tidak efisien, karena banyak terbuang.

Sebagai bahan bakar dapat digunakan sabut kelapa, serbuk gergaji, kayu baker dan bahan lainnya dan sedapat mungkin dihindari pemakaian bahan/kayu yang bergetah. Menurut Dagoon (1990), mencoba menggunakan serbuk gergaji dan daun jambu biji segar yang ditaburkan diatas bare arang, sebagai bahan pengasap akan dapat menghasilkan teripang kering yang berkualitas tinggi.

Faktor-faktor penting yang perlu diperhatikan dalam proses pengasapan, antara lain :

  • Ketebalan asap diusahakan konstan selama pengasapan dan seluruh permukaan teripang harus berkontak langsung dengan asap.
  • Suhu pengasapan dipertahankan 60 – 80° C dengan jalan mengatur bara api serta ventilasi yang ada pada lemari pengasap (bila menggunakan, lemari pengasap). Teripang diusahakanjangan sampai terbakar, karena akan merusak penampakan dan mengganggu keluarnya air dari tubuh teripang pada saat pengeringan.
  • Diusahakan agar tidak banyak debu/kotoran yang masuk ke dalam lemari pengasap.
  • Bahan bakar harus dibersihkan dan kotoran lain yang dapat mencemari teripang, seperti jamur dll.

e)   Pengeringan

Tahap akhir pada pengolahan teripang kering adalah proses pengeringan, atau proses penurunan kadar air. Proses ini harus dilakukan secara bertahap yaitu perebusan, pengasapan dan pengeringan (penjemuran). Hal ini dilakukan agar air dapat keluar secara sempurna dan tidak hanya pada permukaan tubuh teripang saja, tetapi juga pada bagian daging ditengahnya.

Pengeringan teripang dapat dilakukan dengan penjemuran dibawah sinar matahari atau menggunakan alat pengering mekanis (mechanical dryer). Pada pengeringan dengan sinar matahari, teripang diletakkan diatas parapara dengan ketinggian ± 1 meter. Pengeringan dengan cara ini memakan waktu 2 – 3 hari tergantung cuaca dan ukuran teripang. Apabila dalam pengeringan menggunakan mechanical dryer agar suhu pengeringan disesuaikan dengan panes matahari (± 50°C).

Biasanya alat ini dipakai hanya pada waktu tertentu, misalnya musim hujan, atau karena terbatasnya ruangan penjemuran.Penjemuran/pengeringan dilakukan secara terus menerus sampai kadar air teripang dibawah 20%.

f)    Penggudangan

Teripang kering yang akan disimpan di dalam gudang, agar dikemas tedebih dahulu dalam karung plastik kemudian karung tersebut disusun diatas rak-rak dalam gudang dan selanjutnya tumpukan karung ditutup dengan terpal pada bagian atasnya.

Pada prinsipnya teripang kering harus disimpan pada suhu ruangan yang tidak terlalu tinggi dengan kelembaban (RH) rendah. Hal ini sangat perlu diperhatikan, karena teripang kering mengandung garam dan juga mengandung “collagen” yang sangat higroskopis, sehingga akan dapat menyerap uap air dari udara.

Tingginya penolakan yang cilakukan eksportir atau pengumpul terhadap hasil olahan nelayan pengolah tradisional, diduga disebabkan karena kesalahan selama dalam penggudangan. Untuk dapat mencapai kondisi gudang yang memenuhi syarat sebagai tempat penyimpanan teripang kering, make ada beberapa he] yang perlu ciperhatikan, antara lain :

  • Gudang harus terlindung dari sinar matahari dan tidak bocor bila hujan.
  • Gudang harus mempunyai ventilasi cukup untuk mengurangi peningkatan kelembaban (RH).
  • Gudang harus dapat tertutup rapat agar terhindar dari binatang perusak (rodent atau hewan piaraan).
  • Teripang harus dikemas secara baik-baik dan diletakkan diatas rak-rak, tidak diletakkan langsung diatas lantai.

 Kandungan Nutrisi dan Mutu Teripang Kering

Teripang kering mempunyai kandungan nutrisi sebagai berikut : Kadar air (8,90%), protein (82,00%), lemak (1,70%), abu (8,60%), karbohidrat (4,80%), vitamin A (455 ug%), vitamin B(yaitu thiamine 0,04 mg%, riboflavin 0,07 mg%, niacin 0,4 mg%) dan total kalori (385 cal/100g), dll. (Annonymous, 1972). Kadar protein yang cukup besar memberikan nilai gizi yang cukup baik dan protein teripang mempunyai asam amino yang lengkap. Kandungan lemaknya mengandung asam lemak tidak jenuh yang sangat diperlukan bagi kesehatan jantung.

Standar mutu teripang kering (SPI-KAN/02/29/1987) sesuai Keputusan Menteri Pertanian RI No. 701/Kpts/TP.830/10/1987 tentang penetapan Standar mutu hasil pertanian, yang saat ini sudah diangkat menjadi Standar Nasional Indonesia oleh Dewan Standardisasi Nasional dan diberlakukan secara Nasional, merupakan Standar minimum dengan persyaratan sebagai berikut:

  • Pemilihan jenis teripang yang ekonomis penting serta tidak berasal dari daerah/perairan tercemar.
  • Bahan baku teripang diusahakan dalam kondisi hidup atau sesegar mungkin.
  • Cara pembelahan dan perebusan yang baik yang erat kaitannya dengan penampakan produk akhir.
  • Cara pengasapan dan pengeringan yang benar, sehingga dapat dilakukan pengeringan yang sempurna.
  • Cara pengemasan dan penggudangan yang benar, terutama dalam kaitannya dengan sifat teripang yang higroskopis (menyerap uap air).

 

DAFTAR PUSTAKA :

http://ikanmania.wordpress.com/2007/12/31/penanganan-dan-pengolahan-teripang/

Martoyo J,  Aji N dan Winanto T, 1994. Budidaya Teripang. Penebar swadaya, Jakarta.

 

Rabu, 24 Agustus 2022

 PEMELIHARAAN TERIPANG


Teripang merupakan hewan yang gerakannya lamban dan dapat hidup secara berkelompok. Sehingga upaya peningkatan produksi persatuan luas lahan dapat dilakukan dengan peningkatan padat penebaran.

PADAT PENEBARAN BENIH

Padat penebaran untuk budidaya teripang ditentukan oleh ukuran benih. Benih dengan berat antara 30 - 40 g/ per ekor ditebarkan sebanyak 15 - 20 ekor/m2, sedangkan benih dengan berat antara  40 - 50 g/ekor padat penebarannya adalah 10 - 15 ekor/m2.  Sehingga untuk satu unit lahan budidaya seluas 400 m2 diperlukan  benih teripang sebanyak 6.000 - 8.000 ekor dengan berat 30 - 40 g/ekor dan panjang 5 - 7 cm/ekor. Sedangkan untuk benih dengan berat 40 - 50 g/ekor diperlukan sebanyak 4.000 - 6.000 ekor.

Untuk mendapatkan hasil panen yang baik, benih yang ditebarkan pun harus baik pula. Ciri-ciri benih teripang yang baik antara lain berwarna cerah dan tidak cacat, bila dipegang tidak cepat lembek dan lendirnya tidak terlalu banyak, gerakannya aktif, dan tubuhnya tidak bengkok atau tidak menggelembung.

Penebaran benih sebaiknya dilakukan pagi atau sore hari agar benih terhindar dari stres. Sebelum benih ditebarkan perlu diaklimatisasikan terlebih dahulu dengan cara kondisi air di lokasi budidaya disesuaikan dengan kondisi air di tempat penampungan benih. Apabila teripang mengalami stress akan terjadi pengeluaran isi perut dan kekakuan tubuh sehingga mengakibatkan kematian.

PEMBERIAN PAKAN

Pakan alami teripang yang berupa plankton, detritus atau sisa-sisa bahan organik, dan sisa-sisa endapan di dasar laut dapat diperoleh di sekitar lingkungan budidaya.   Namun  demikian,  teripang yang dibudidayakan sebaiknya diberi pakan tambahan untuk mempercepat pertumbuhan.


Pakan tambahan itu berfungsi untuk menambah kesuburan perairan dan umumnya berupa campuran kotoran hewan dan dedak  halus  dengan  perbandingan 1 : 1. Pakan diberikan sebanyak 0,2 - 0,5 kg/m2 per 2 minggu. Pakan diberikan dengan cara ditempatkan dalam karung goni yang berlubang-lubang sehingga keluar sedikit demi sedikit.   Hal ini bertujuan untuk mencegah hanyutnya pakan karena arus atau gelombang. Dalam setiap kantong goni biasanya berisi pakan tambahan sebanyak 10 - 15 kg. Jumlah tersebut dapat mencukupi untuk luasan budidaya 30 - 50 m2.

Aktivitas teripang, termasuk mencari makanan di dasar perairan, umumnya berlangsung pada malam hari. Pada siang hari hewan ini lebih

senang membenamkan diri dalam pasir atau beristirahat di sela-selakarang untuk menghindari hewan pemangsa.

Dilihat dari jenis, jumlah dan cara penyediaan pakannya, budidaya teripang tidak membutuhkan biaya operasional yang tinggi. Lagi pula, bahan pakan teripang dapat diperoleh dengan mudah di sekitar kita.

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT

Beberapa jenis hama maupun hewan penyaing seperti kepiting, bulu babi, dan bintang laut harus disingkirkan dari kurungan pagar. Hama dapat mengakibatkan kerusakan fisik pada tubuh teripang, misalnya terluka atau bahkan akan memangsanya. Sedangkan hewan penyaing merugikan karena berkompetisi dalam hal perolehan pakan, ruang gerak, dan sebagainya.

Kerusakan fisik pada tubuh teripang karena serangan hama dapat menimbulkan penyakit. Luka yang tidak segera diobati menjadi bertambah besar. Akibatnya, makin lama fisik teripang semakin lemah. Untuk itu, pengobatan teripang yang terluka harus segera dilakukan dengan merendamnya dalam larutan acriflauin 4 ppm atau methylen blue 4 ppm selama 0,5 - 1 jam. Setelah diobati, teripang ditempatkan dalam bak penampungan selama 1 - 2 hari.

Organisme-organisme penempel seperti rumput laut, teritip, dan sponge yang menempel pada kurungan pagar harus dibersihkan secara berkala. Keberadaan  organisme-organisme penempel ini akan mengganggu sirkulasi air dalam kurungan pagar dan menurunkan kualitas  air,  yang  berakibat  kurang  baik  bagi  pertumbuhan  teripang. Oleh karena itu, pengamatan dan pembersihan kurungan paga secara rutin mutlak dilakukan.

 


DAFTAR PUSTAKA :

Martoyo J,  Aji N dan Winanto T, 1994. Budidaya Teripang. Penebarswadaya, Jakarta.

 

  MENGENAL IKAN SCORPION Mengingat permintaan ikan hias dari tahun ketahun terus meningkat, maka Ikan  Skorpion Volitan (Pterois ...