Selasa, 11 Juli 2017

TEKNIK BUDIDAYA IKAN MAANVIS (Pterophyllum scalare)


Ikan hias air tawar merupakan komoditas yang dapat diandalkan sebagai komoditas ekspor sehingga mempunyai prospek yang cukup potensial untuk dikembangkan. Peluang yang sangat baik tersebut harus dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya. Oleh karena itu perlu kesiapan dalam mengembangkan komoditas ini baik dari teknologi pembenihan maupun teknologi pembesarannya.

Beberapa jenis ikan hias air tawar yang banyak disukai oleh para kolektor di luar negeri antara lain ; Tetra, Maanvis, Diskus, Cupang, Severum, Balck Ghost, dan banyak lagi. Peluang ini sekaligus merupakan tantangan bagi para pembudidaya dan pengusaha Indonesia untuk lebih meningkatkan ekspor ikan hiasnya.

Saat ini, ekspor ikan hias dari tahun ke tahun menunjukkan kenaikan yang signifikan. Apabila dilihat dari volume ekspor tahun 1998 berjumlah hanya 192 ton dan pada tahun 2002 berjumlah 3.513 ton yang berarti kenaikan per tahun rata-rata sekitar 343,6%.

Dengan data dan fakta yang ada, bisa diartikan bahwa komoditas ikan hias ini masih bisa dipacu lagi pengembangannya. Untuk itu, guna mencapai cita-cita yang kita inginkan yakni menyumbangkan devisa dari sector perikanan budidaya, maka cara yang perlu kita lakukan adalah dengan meningkatkan kesehatan ikan yang kita budidayakan sehingga produksinya meningkat.

DESKRIPSI IKAN MAANVIS
Klasifikasi

Sistematika Ikan Maanvis adalah sebagai berikut :

·   Ordo                  : Perchomorphidei

·   Subordo           : Percoidea

·   Famili                : Cichlidae

·   Genus               : Pterophyllum

·   Spesies             : Pterophyllum scalare

Ikan Maanvis merupakan bukan ikan hias asli Indonesia tetapi berasal dari Amerika Selatan yakni dari dataran Orinocu dan Sungai Amazon. Di habitat aslinya, ikan ini dijumpai pada perairan tenang dan banyak ditumbuhi tanaman air dengan suhu 23 – 28 oC dan pH berkisar antara 6,5 – 7,0. Maanvis termasuk kedalam golongan ikan pemakan segala (omnivore) serta bersifat pendamai sehingga dapat dipelihara bersama ikan-ikan yang  memiliki gerakanlamban. Seperti umumnya ikan  dari famili Cichlidae, Maanvis pun memiliki sifat sayang terhadap keturunannya. Begitu sayangnya, terkadang ia tega menyantap anak-anaknya bila ia merasa ada yang mengganggu keselamatannya.

PROSES BUDIDAYA IKAN MAANVIS
Persiapan Sarana Pemijahan

Ada beberapa tempat yang dapat digunakan sebagai tempat pemijahan Ikan Maanvis, diantaranya kolam atau bak semen, dan akuarium. Jika menggunkan bak semen, ukurannya 100 x 100 x 80 cm. namun bila menggynkan akuarium bisa dipakai ukuran 100 x 75 x 50 cm atau 60 x 40 x 40 cm. Tempat pemijahan sebaiknya diletakkan pada lokasi yang terhindar dari kebisingan serta diusahakan suasananya agak gelap sesuai dengan sifat ikan ini yang menyukai suasana sepi dan damai.

Karena Maanvis mempunyai sifat menempelkan telurnya, maka di dalam tempat pemijahan harus disediakan benda atau alat sebagai media untuk menempelkan telur. Benda ini bisa berupa pecahan botol, pipa paralon, atau benda lain yang permukaannya licin. Bisa pula dari jenis tanaman air yang berdaun panjang dan kuat ( bisa pula diganti dengan potongan daun pisang yang agak lebar ). Sebelum digunakan, semua alat ini dicuci ersih terlebih dahulu.

Setelah dibersihkan, kemudian wadah pemijahan diisi air setinggi  30 cm  dengan  suhu  air 23    26 oC  dan  pH 6,8  – 7.  Air sebagai media pemijahan maupun pemeliharaan harus selalu bersih dan kualitasnya terjaga.



Pemilihan Induk

Pada pemilihan induk Ikan Maanvis, perbedaan antara jantan dan betina kurang terlihat jelas. Oleh karena itu, hal termudah yang dapat dilakukan adalah dengan cara memilih induk Maanvis yang sudah berpasangan dari sekumpulan induk yang dipelihara yang kemudian dipisahkan dan ditempatkan pada wadah pemijahan.

Pada umur yang sama, ukuran ikan jantan lebih besar dengan perutnya yang pipih serta bagian kepala yang juga besar mempunyai benjolan kecil (kadang tidak tampak jelas) yang terletak antara ujung mulut dan sirip punggung. Sedangkan Maanvis betian, sekalipun ukurannya lebih kecil tetapi perutnya agak menonjol dengan bentuk kepala yang relative kecil dan umumnya menbentuk garis lurus antara mulut dan sirip punggung.

Ikan Maanvis mulai dewasa dan siap kawin bila umurnya telah mencapai 7 – 12 bulan dengan ukuran tubuh anatar 6 – 8 cm. ikan yang mijah biasanya selalu bersama-sama kemanapun pergi (berkejar-kejaran).  



Proses Pemijahan

Untuk menciptakan suasana tentram pada saat pemijahan, sebaiknya pada dinding akuarium ditempel kertas berwarna gelap. Jika menggunakan bak semen, maka pada permukaan air bak tersebut bisa diberi tanaman air yang mengapung seperti eceng gondok (Echornia crassipes).  Hal ini dilakukan sesuai dengan sifatIkan Maanvis yang gemar hidup ditempat gelap. Baru setelah itu induk yang telah berpasangan dapat dilepaskan ke dalam wadah pemijahan.

Proses pemijahan biasanya terjadi pada malam hari ketika suasana tenang dan sepi. Induk betina segera akan meletakkan telur pada media yang telah disediakan sehingga keesokan harinya tampak telur yang menempel pada media tersebut.



Penetasan Telur

Setelah menetas, biasanya induk Ikan Mannvis akan menjaga dan merawat telurnya dengan cermat secara bergantian. Kelompok telur yang melekat pada daun atau benda lain dibersihkan dengan mulut sambil mengkipas-kipaskan siripnya agar telur-telur tersebut memperoleh aliran air yang segar. Pada kondisi ini sebaiknya induk jangan dikagetkan, karena jika itu terjadi bisa jadi induk Maanvis akan memakan telurnya karena sayangnya induk kepada keturunannya.

Untuk menghindari terjadinya hal tersebut diatas, alangkah lebih baiknya telur-telur tersebut diangkat dan ditetaskan pada tempat tersendiri. Telur akan menetas dalam waktu 2 – 3 hari pada suhu 25–280C. Larvanya akan menggantung pada permukaan daun dengan perantaraan seutas benang halus yang dihasilkannya. Dua atau tuga hari kemudian anak Maanvis terlihat sudah mulai berenang sendiri.



Pendederan

Persediaan kuning telur pada umur 3 – 4 hari sudah habis dan anakan Maanvis sudah aktif berenang. Keadaan seperti ini merupakan saat-saat yang rawan dalam usaha budidaya Maanvis. Oleh karena itu harus segera mendapat perlakuan sebaik-baiknya yang biasanya dipindah ke wadah pendederan seperti bak semen yang berukuran 2 x 2 m dengan kepadatan 300 ekor.

Semenjak hari pertama hingga hari ke tujuh, benih diberi pakan berupa infusorea atau rotifera. Awal minggu kedua diberi naupli artemia atau kutu air halus hasil saringan, kemudian cacing sutera atau pakan buatan berbentuk tepung halus. Pemberian pakan ini dilakukan sedemikian rupa sehingga tidak terdapat sisa pakan di dasar wadah yang dapat menyebabkan perubahan kualitas air pada wadah budidaya. Pemeliharaan tahap pertama ini biasanya diakhiri dengan kegiatan seleksi.



Pembesaran

Pembesaran Maanvis dapat dilakukan di kolam atau bak semen ukuran 2 x 2 m dengan kepadatan tergantung pada ukuran ikan. Biasanya kepadatan setelah pendederan dikurangi menjadi 100 – 150 ekor. Benih untuk pembesaran ini biasanya sudah berumur 3 – 4 minggu. Tandanya ialah sirip-siripnya sudah lengkap. Pakan yang diberikan berupa kutu air besar, cacing sutera, ataupun cacing darah.

Biasanya pada usia 2 bulan dan dewasa, ikan ini sudah tahan  terhadap perubahan kualitas air. Namun demikian, pergantianair sebaiknya dilakukan secara rutin. Ini disebabkan sirip dadanya yang panjang seperti dasi sangat mudah rusak bila terserang penyakit. Jika sudah rusak maka nilai jualnya pun hilang (menurun). Pada ukuran 3,5 cm atau berumur sekitar 3 bulan, Maanvis sudah dapat dijual.

 


DAFTAR PUSTAKA
Daelami Deden A.S. Agar Ikan Sehat. Jakarta : Penebar Swadaya, 2001.

Daelami Deden A.S. Usaha Pembenihan Ikan Hias Air Tawar. Jakarta : Penebar Swadaya, 2001.

Ganis L.R. dan Syafei L.S, 2005. Buku Seri Kesehatan Ikan “Maanvis Sehat Produksi Meningkat”. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Jurusan Penyuluhan Perikanan, Bogor.

Lesmana Darti S. Mencegah dan Menanggulangi Penyakit Ikan Hias. Jakarta : Penebar Swadaya, 2003.

Sukadi Fatuchri.  Ikan Hias Air Tawar dan Prospeknya. Dirjen Perikanan Budidaya, 2003.

Rabu, 05 Juli 2017

TEKNIK PEMBENIHAN ABALON



I.     PENDAHULUAN
Abalon merupakan komoditas perikanan bernilai tinggi, khususnya di negara-negara maju di Eropa dan Amerika Utara. Biota Laut ini dikonsumsi segar atau kalengan. Di indonesia, jenis siput ini belum banyak dikenal masyarakat dan pemanfaatannya baru terbatas di daerah – daerah tertentu, khususnya didaerah pesisir. Di dunia, diperkirakan ada sekitar 70 jenis abalone, sekitar setengah dari jumlah jenis abalone tersebut hidup diperairan sekitar Indonesia dan Filipina.
Awalnya, pengembangan yang dilakukan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) baru bertahap jenis abalon lokal dari Lombok yang dikenal dengan nama medau atau tiram telinga keledai (haliotis asinina). Meningkatnya kebutuhan akan abalone dapat mendorong usaha penangkapan secara intensif sehingga produksi abalon di alam berkurang sementara pertumbuhan abalon sangat lambat. Hal ini dapat mengakibatkan penurunan populasi abalon secara drastis di alam. Oleh karena itu upaya peningkatan produksi abalon perlu dikembangkan melalui usaha budidaya.
Besarnya potensi dan peluang pasar yang ada maka Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Takalar mengembangkan kegiatan pembenihan abalon sebagai wujud kepedulian dalam melestarikan biota sebagai laut ini. Untuk itu dengan adanya kegiatan pembenihan abalon dapat menjadi peluang usaha untuk masyarakat dan lingkungan tetap terjaga.
Hal yang perlu diperhatikan dalam usaha ini terutama menyangkut tempat pemeliharaan, yakni harus diperairan yang masih bersih dari pencemaran serta tidak berombak besar. Setelah itu, hindari memelihara abalon didekat muara sungai.
II.  EKOLOGI DAN DAUR HIDUP
Abalon termasuk ke dalam hewan herbivora sebagai produsen tingkat pertama, abalon memakan klekap, alga bahkan phytoplanton dan diatom, abalon berinteraksi dengan lingkungan menggunakan otot perut yang berfungsi sebagai kaki dan bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain. Kakinya cocok untuk kondisi dasar berpasir karena abalon tidak dapat melekat atau menempel. Hidup diperairan dengan salinitas konstan, lebih senang berada di lautan terbuka dan menghindari air tawar sehingga abalon tidak ditemukan di daerah estuaria.
Pada suhu tertentu, sebagai hewan yang berada dingin akan terjadi kondisi dorman. Pada umumnya lebih menyukai perairan yang dangkal, berarus kuat dimana konsentrasi oksigen tinggi yang secara langsung mempunyai suhu lebih rendah (<25 derajat celsius).
III.       PEMELIHARAAN INDUK
Induk yang digunakan adalah hasil tangkapan dari alam atau hasil dari kegiatan pembenihan (F1). Induk tersebut diseleksi dengan persyaratan : tidak terdapat cacat pada tubuhnya, dapat membalikkan badannya, merekat kuat jika dipegang.
Di BBAP Takalar pemeliharaan induk dilakukan dalam bak fiber voume 1 ton yang dimasukkan dalam tudung saji yang mana dua tudng saji ditangkupkan menjadi satu sehingga berbentuk seperti kotak serta pemberian pakan berupa Gracillaria sp. secara ad libitum, selanjutnya setiap 2 hari dilakukan pergantian pakan kemudian penyiponan sisa pakan dan kotoran dilakukan setiap hari agar kualitas air tetap terjaga dengan baik. Pemijahan induk dilakukan secara alami dengan sistem sirkulasi dan pada saat malam hari, aliran air dimatikan kemudian pada pagi hari dilakukan pengecekan trochopore dan panen trochopore dilakukan jika terdapat induk yang memijah. Pada bak pemeliharaan induk terdapat 2 – 6 keranjang induk yang mana antara jantan dan betina ditempatkan pada keranjang yang terpisah.
IV. PEMELIHARAAN LARVA
Hasil panen trochophore ditebar ke bak yang telah ditumbuhi plankton nitczhia sp. yang jauh dari sebelumnya telah dipersiapkan yang mana bak kultur plankton juga sebagai bak pemeliharaan larva. Pada bak kultur plankton diberikan beberapa feeding flate untuk menambah ruang penempelan plankton dan larva abalon. Trochophore akan terus berkembang sebagai larva yang bersifat planktonis memanfaatkan cadangan makanan (yolk sack) sehingga habis pada haei ke 4 – 5. Setelah yolk sack habis larva mencari substrat untuk menempel dan mulai makan bentik diatom. Pada minggu pertama ini adalah masa kritis bagi larva karena mulai makan bentik diatom. Pada D10 larva sudah menempel pada substrat dan dapat dialirkan air secara perlahan. Spat atau benih dapat dilihat mulai umur 18 walaupun belum begitu jelas dan semakin lama akan terlihat jelas menempel pada flat atau dinding bak seperti titik merah kecoklatan.   
V.    PANEN DAN PASCA PANEN
Benih yang telah berumur 2 bulan atau mencapai ukuran 1 cm sudah dapat dipanen menggunakan spatula dan dipindahkan ke bak pendederan selanjtunya kegiatan budidaya atau pembesaran dapat dilakukan setelah benih mencapai ukuran 2 cm sehingga sudah cukup kuat untuk beradaptasi dengan lingkungan budidaya. Kegiatan panen untuk penangkutan jarak jauh agak berbeda dengan biota yang lainnya yang mana benih ditempatkan pada potongan pipa sepanjang 20 – 25 cm dan pada kedua sisinya ditutup menggunakan waring, selanjutnya dimasukkan dalam kantong panen dan diberi oksigen tanpa menggunakan air.
Sumber : Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP Takalar)

Senin, 03 Juli 2017

BUDIDAYA IKAN BETUTU

       

        Ikan betutu diduga ikan asli indonesia yang berasal dari pulau Kalimantan. Namun sementara orang ada yang berpendapat bahwa ikan betutu berasal dari Sumatra karena sejak dahulu sudah ada disana, bahkan menjadi maskot Kabupaten Talang Betutu. Mengigat nama betutu menjadi nama tunggal di kabupaten tersebut, maka ikan betutu diduga berasal dari Sumatera. 


     Ikan betutu mempunyai kemiripan dengan ikan gabus karena sepintas memang ada keserupaan, baik bentuk maupun sifatnya. Bila diamati, antara keduanya mempunyai perbedaan yang cukup mencolok yaitu ikan betutu dapat bertahan bejam-jam tanpa bergeser dari tempatnya dan sering disebut dengan ikan malas. Oleh karena itu, sementara para ahli menduga bahwa ikan betutu masuk dalan keluarga besar Eleotridae yang memiliki kekerabatan dengan keluarga Gobioidea(satu famili dengan ikan gabus). Jika dilihat sepintas, tampang betutu cukup menyeramkan, bentuk mukanya cekung dengan ujung kepala picak (gepeng), matanya yang besar menonjol keluar dan dapat digerak-gerakkan dan mata lebar, tebal dengan gigi kecil tajam. Cukuplah beralasan orang menyebutnya sebagai ikan hantu.

Klasifikasi dan Morfologi

    Menurut klasifikasi berdasarkan taksonomi yang dikemukakan ahli ikan Singapura, Lie Siauw Foey (1968), Ikan Betutu digolongkan sebagai berikut :

Kingdom : Animalia

Fylum : Chordata

Super-class : Pisces

Ordo : Perciformes

Sub-ordo : Gobioidea

Family : Eleotridae

Genus : Oxyeleotris

Species : Oxyeleotris marmorata. Blkr

Nama Lokal : bloso, ikan malas (Jawa); bakut, ikan hantu (Kalimantan); bakut, beluru, bakutut (Sumatra); ketutu, belantok, batutu, ikan hantu (Malaysia); plabusai (Thailand); cabongtuong (Vietnam); soon hock (Cina).

Nama Internasional : Marbled goby, Sand goby


  Ciri-ciri morfologi spesifik yang dimiliki oleh ikan betutu (Oxyeleotrismarmorata. Blkr) adalah sebagai berikut :

1. Bentuk badan memanjang, bagian depan silindris dan bagian belakang pipih

2. Kepala rendah, mata besar yang dapat bergerak dan mulut lebar

3. Sisik sangat kecil-kecil, halus dan lembut sehingga tampak hampir tidak bersisik

4. Warna badan kecoklatan sampai gelap dengan bercak- bercak hitam (seperti batik) menyebar ke seluruh tubuh

5. Bagian ventral berwarna putih/terang

6. Tubuh ikan betina umunmnya lebih gelap dari pada jantan

7. Panjang maksimum 50 cm dan dapat mencapai berat tujuh kg/ekor


Habitat dan Penyebaran

Habitat betutu tersebar luas, meliputi perairan-perairan tawar didaerah beriklim tropis/subtropis. Betutu menyukai tempat yang arusnya tenang dan agak berlumpur seperti rawa , danau atau muara sungai. Ikan ini gemar sekali membenamkan dirinya didalam lumpur.

Betutu tersebar di wilayah Asia Tenggara seperti Thailand, Kamboja, Vietnam, Singapura, Malaysia, Filipina, Indonesia (Sumatera, Kalimantan dan Jawa), hingga kepulauan Fiji di Pasifik.


Tingkah Laku dan Kebiasaan Makan 

Ikan ini hidup didasar perairan, hanya sekali-kali saja menyembul ke permukaan. Tempat agak gelap, terlindung dibalik batu-batuan atau tumbuhan air sangat disukainya sebagai tempat berlindung dan tempat mengintip mangsa serta melangsungkan proses pemijahan . Jika hari menjelang malam, betutu sering terlihat menyembulkan moncongnya di atas permukaan air, disekitar tempat persembunyiannya.

Jenis makanan yang disantapnya berubah dengan bertambahnya umur. Ikan dewasa biasanya memangsa ikan lain, udang-udangan (crustacea) dan serangga air (insekta), sementara juvenilnya yang masih muda memakan kutu air (daphnia, cladocera dan copepoda), jentik-jentik serangga dan rotifera. Pada stadia larva, betutu juga memakan plankton nabati (ganggang) dan plankton hewani berukuran renik.

Kunci utama yang mesti di kuasai adalah pembenihan karena ketersediaan benih merupakan hal mutlak. Penyediaan benih yang selama ini masih mengandalkan kemurahan alam, sebetulnya sudah dapat dilakukan secara terkendali. Dengan teknik yang sederhana (alami) pun, benih betutu dapat di produksi secara massal hasil-hasil percobaan memberikan gambaran mengenai prospek produksi benih betutu sebagai sesuatu yang cukup mudah dan tidak membutuhkan modal terlalu besar. Hanya saja, karena ikan ini belum terlalu populer maka masih jarang pembudidaya yang mencoba mengusahakan pembenihannya.

Pembudidayaan betutu sedikitnya menyangkut dua tahap yakni produksi benih dan pembesaran. Tahap produksi maupun pembesaran dapat dilakukan terpadu atau pun terpisah, tergantung pada ketersediaan unsur produksi.


Produksi Benih

Dari praktek yang sudah dilakukan para pengumpul ikan, benih betutu umumnya diperoleh dari alam dan siap ditebarkan lebih lanjut di kolam pembesaran sampai menjadi ikan ukuran konsumsi. Namun, benih betutu hasil tangkapan ini tidak dapat diandalkan karena secara jumlah maupun ukuran tentu saja tidak mencukupi. Untuk itulah pengadaan benih dengan pemijahan perlu diupayakan.

Dalam tahap produksi benih, kegiatan yang dilakukan antara lain menyangkut; pemeliharaan induk atau calon induk hingga siap memijah, pemijahan induk-induk ikan yang menghasilkan telur, penetasan telur dan perawatan larva (burayak) hingga menjadi benih.


Pembesaran

Kegiatan pembesaran meliputi pemeliharaan benih dari ukuran 50 gr hingga menjadi ikan konsumsi. Kegiatan ini membutuhkan waktu kira-kira 8 – 10 bulan. Data mengenai usaha pembesaran betutu masih sangat sedikit karena budidaya ikan ini belum popular dan kalau pun ada masih sebatas penelitian para ahli.

Pembesaran betutu dikolam bisa dilakukan secara polikultur bersama ikan-ikan lain, misalnya karper. Usaha pembesaran sistem monokultur sudah dicoba pula di daerah Kalimantan Timur. Pembesaran dengan sistem monokultur ini di kerjakan dalam keramba apung. Hasil panennya cukup memberikan harapan, dapat mencapai 30- 40 kg /m3/tahun. Namun, sayangnya kelanjutan usaha ini tidak terlalu lancar. Salah satu penyebabnya adalah tidak tersedianya benih secara teratur, padahal ikan ini memiliki prospek pasar yang cukup baik. Teknik pembesaran di dalam keramba dan hampang ternyata sangat prospektif karena dapat dilakukan pada lahan relatif sempit dengan produksi yang cukup tinggi.


Daftar Pustaka


Mulyono, D. 2001. Budidaya Ikan Betutu. Kanasius. Yogyakarta.

Komarudin, Ujang. 2000. Betutu; Pemijahan Secara Alami dan Induksi, Pemeliharaan di Kolam, Keramba dan Hampang. Penebar Swadaya. Jakarta. 

Kurniawan R. dan Syafei L.S, 2005. Buku Seri Kesehatan Ikan “Betutu Sehat Produksi Meningkat”. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian, Jurusan Penyuluhan Perikanan, Bogor.

Senin, 19 Juni 2017

PEMBENIHAN IKAN MAS

I.     PENDAHULUAN

Pengembangan sektor perikanan bertujuan untuk meningkatkan produksi ikan dalam menunjang penumbuhan kebutuhan gizi masyarakat, peningkatan pendapatan, perluasan kesempatan kerja dan usaha serta agrobisnis.
Salah satu komoditas perikanan yang mempunyai prospek yang baik dan potensial untuk dibudidayakan adalah ikan mas (Cyprinus carpio).
Produksi ikan mas harus didukung oleh ketersediaan benih yang tepat jumlah, waktu, ukuran, jenis dan mutu. Produksi benih dapat ditingkatkan melalui metode intensifikasi, yaitu upaya peningkatan kapasitas unit produksi melalui penambahan input hingga mencapai efektivitas dan efisiensi dalam penggunaanya. 

II.  BIOLOGI

Secara sistematis ikan mas termasuk dalam kelas Osteichthyes, ordo Cypriniformes, famili Cyprinidae, spesies Cyprinus carpio.
Ciri-ciri fisik ikan mas adalah bentuk tubuh agak memanjang dan memipih tegak (comressed). Secara umum hampir seluruh tubuh ikan mas ditutupi oleh sisik, kecuali beberapa varietas yan memiliki sedikit sisik. Selain itu, tubuh ikan mas dilengkapi dengan sirip punggung (dorsal) memenjang dan dibagian belakangnya berjari keras yang terletak berseberangan dengan permukaan sirip perut (ventral). Sirip dubur (anal) mempunyai ciri seperti sirip punggung, yakni berjari, keras dan bergerigi. Garis rusuk atau gurat sisi (linea literalis) pada ikan mas berada dipertengahan tubuh dengan posisi melintang dari tutup insang sampai ke ujung belakang pangkal ekor. 

III.       PEMBENIHAN

A.    Pemeliharaan dan Pengelolaan Induk

Ø Secara genetik, kulaitas benih ikan mas sangat ditentukan oleh kualitas induknya. Induk yang baik akan menghasilkan keturunan yang sebagian besar sama atau identik dengan induknya.

Ø Induk yang dipelihara di dalam kolam pematangan induk diberi pakan dengan kandungan protein diatas 25%, lemak 6-7%. Selain itu, diperlukan juga vitamin E sebanyak 10 g per 100 kg pakan yang diberikan sebanyak 3% dari berat total ikan setiap hari.

Ø Kolam jantan terpisah dari kolam betina, agar mencegah terjadinya pemijahan secara liar yang mengakibatkan rendahnya mutu benih yang dihasilkan.

B.    Pemijahan

Ø Persiapan Wadah Pemijahan

·  Wadah atau media tempat pemijahan berupa bak beton dengan ukuran 4 m x 8 m.

·      Hapa berukuran 1 m x 3 m x 6 m dipasang di dalam bak pemijahan tersebut, selanjutnya diisi air dengan ketinggian 60 cm – 80 cm dari dasar bak .

·       Memasukkan ijuk/ kakaban kedalam bak pemijahan sebagai substrat menempelnya telur -  telur ikan mas.

  Ø Seleksi Induk Matang Gonad

·   Proses pemijahan

Perbandingan antara induk betina dan jantan dalam satu wadah penijahan adalah 1:2. Artinya untuk setiap 1 kilogram betina akan dipijahkan dengan 2 kilogram jantan. Secara alami, pemijahan terjadi pada tengah malam sampai akhir fajar. Pada keesokan hari, sekitar jam 06.00 pagi setelah proses pemijahan, induk jantan dan betina harus diangkat dari bak pemijahan dan dikembalikan ke kolam pemeliharaan induk. 

·    Penetasan telur

Setelah induk memijah, kakaban yang sudah dipenuhi telur dibiarkan selama 2 – 3 hari hingga menetas menjadi larva. Telur ikan mas berbentuk bulat, berwarna bening, berdiameter 1,5 – 1,8 mm, dan berbobot 0,17 – 0,20 mg. Larva ikan mas bersifat menempel dan bergerak vertikal. Ukuran larva antara 0,5 – 0,6 mm dan bobotnya antara 18 – 20 mg.

Ø Pemeliharaan dan Pengelolaan Benih

Setelah 5 – 7 hari sejak menetas, larva siap ditebar ke kolam pendederan yang tentunya telah dipersiapkan sesuai standar yang ditentukan untuk memperoleh hasil benih yang baik. Pendederan ikan mas dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu :
1.   Tahap pendedaran I, yaitu umur benih yang ditebar berkisar 5 – 7 hari sejak menetas (ukuran 1 – 1,5 cm, bobot 18 – 20 mg/ekor); jumlah benih yang ditebar = 100 – 200 ekor/m2; lama pemeliharaan 21 hari; ukuran benih menjadi 2 – 3 cm dengan kisaran bobot 0,5 – 1 gr/ekor. Selama pemeliharaan, perlu penambahan makanan berupa dedak halus 20% dari biomassa. Tingkat kelulusan hidup (SR) 40%.
2.   Tahap pendederan II, yaitu umur benur setelah pemeliharaan tahap I selesai, jumlah benih yang ditebar = 50 – 75 ekor/m2, lama pemeliharaan 28 hari; ukuran benih menjadi 3 – 5 cm dengan kisaran bobot 2,5 – 3 gr/ekor; perlu penambahan makanan berupa dedak halus 10% dari biomassa. Tingkat kelulusan hidup (SR) 60%.
3.   Tahap pendederan III, yaitu umur benih setelah pemeliharaan tahap II selesai; jumlah benih yang ditebar = 25 – 50 ekor/m2, lama pemeliharaan 28 hari; ukuran benih menjadi 5 – 8 cm dengan bobot 5 – 7 gr/ekor; perlu pemberian pellet ukuran 2 mm 5% dari biomassa. Tingkat kelulusan hidup (SR) 80%.
4.   Tahap pendederan IV, yaitu umur benih setelah pemeliharaan tahap III selesai; jumlah benih yang ditebar = 5 – 10 ekor/m2, lama pemeliharaan 28 hari; ukuran benih menjadi 8 – 12 cm dengan bobot 10 – 15 gr/ekor, perlu pemberian pellet ukuran 2 mm 4% dari biomassa. Tingkat kelulusan hidup (SR) 90%.
IV. PENYAKIT
Jenis penyakit yang sering ditemukan pada pembenihan ikan mas antara lain:
Ø     Bintik putih (White spot)
Gejala : pada bagian tubuh (kepala, insang, sirip) tampak bintik-bintik putih, pada infeksi berat terlihat jelas lapisan putih, menggosok-gosokkan badannya pada benda yang ada disekitarnya dan berenang sangat lemah serta sering muncul di permukaan air.
Ø    Gatal (Trichodiniasis)
Menyerang benih ikan. Gejala : gerakan lamaban; suka menggosok-gosokkan badan pada sisi kolam/aquarium.
Ø     Kutu ikan (argulosis)
Gejala : benih dan induk menjadi kurus karena dihisap darahnya. Bagian kulit, sirip dan insang terlihat jelas adanya bercak merah (hemorrtage). Pengendalian : direndam dalam larutan garam dapur NaCl selama 10 menit, dosis 1 – 3 gram/100 cc air.



Sumber : Balai Budidaya Air Tawar Tatelu.

  MENGENAL IKAN SCORPION Mengingat permintaan ikan hias dari tahun ketahun terus meningkat, maka Ikan  Skorpion Volitan (Pterois ...