Jumat, 03 Februari 2017

TEKNIK PENGGELONDONGAN NENER BANDENG DI TAMBAK



Pemilihan Lokasi
Pada umumnya petakan tambak penggelondongan  nener  bandeng sama dengan petakan  tambak  budidaya  ikan  bandeng. Petakan tambak dapat dibuat di lokasi dengan perbedaan tinggi pasang surut  2-3  m.  Elevasi  tambak  optimal adalah 0,50 m dari permukaan air laut. Tanah dasar yang ideal bagi tambak bandeng adalah tanah liat berdebu (Selty  loan)  karena  selain mampu menampung  air  juga  sangat  baik  untuk  pertumbuhan alga  dasar. Tanah  tambak  yang  baru dibuka pada umumnya  bereaksi masam, karena itu perbaikan tanah  (reklamasi)  perlu  dilakukan  dengan  jalan  penjemuran  tanah  dasar  dan pencucian  maupun  pengapuran.
Konstruksi Dan Desain Tambak
Pematang  tambak terdiri  dari  pematang  keliling  (tanggul  primer) dan pematang penyekat (tanggul  skunder). Pematang keliling harus  cukup  lebar  (> 1 m) dengan  lereng bagian dalam 1-1,5 dan lereng bagian luar 1-1,20 m. Sedangkan lebar pematang perantara dibuat lebih kecil dengan lereng tanggul 1:1 (Poernomo 1992). Tinggi pematang sebaiknya tidak kurang dari 0,5 m di atas pasang naik  tertinggi dari penyusutan  sebesar 15-20% harus diperhitung pada pembuatan semua jenis pematang.
Saluran di tambak terdiri atas saluran pemasukan,  saluran pembuangan dan  saluran pembagi. Di dalam  tiap  petakan  tambak  dapat  dibuat  parit-parit  keliling  (caren)  dengan lebar 2-4 m dan dalam 0,3-0,5 m  dari permukaan pelataran. Pintu air satu unit tambak terdiri atas  satu  pintu  utama,  pintu  sekunder  dan  pintu  tertier.  Pintu  utama  dipasang  pada pematang  utama  keliling  untuk  pengaturan  pemasukan  air  ke  dalam  unit  tambak.  Pintu sekunder dipasang pada pematang perantara untuk memasukkan air dari  saluran pembagi ke  dalam  tiap  petakan,  ukuran  pintu  air  sebaiknya  diatur sesuai dengan kapasitas lahan sehingga pemasukan dan pengeluaran air dapat dilakukan dengan lebih cepat.
Tiap  petak  dalam  satu  unit  tambak  harus mendapatkan  pengairan  tersendiri,  untuk mencegah  penggunaan  air  yang  berkualitas  rendah  sebaiknya  pengairan  tidak  dilakukan secara seri.
Persiapan

  • Pengeringan tanah dasar tambak 

Persiapan  untuk  pengeringan  tanah  dasar  dilakukan  terlebih  dahulu  mengadakan perbaikan pematang,  saluran dan pintu  tambak. Tanah dasar bagian pelataran diolah dan diratakan, kemudian  tanah dasar dikeringkan selama 7 hari hingga  tanah dasar retak-retak sampai  sedalam  1  cm.  Dalam  kegiatan  pengeringan  ini  juga  disertai  kegiatan  aplikasi pemberantas hama yaitu dengan menggunakan Saponin sebanyak 30 kg/ha.

  • Pemupukan awal
Pemupukan merupakan  salah  satu  bentuk masukan  energi  yang  dimanfaatkan  ikan secara  tidak  langsung.  Pupuk  organik  selain merupakan  sumber  hara  yang  lengkap  bagi pakan  alami  juga  dapat  memperbaiki struktur tanah. Pupuk an-organik  merupakan pelengkap  yang  dapat menyediakan  zat  hara  secara  cepat  untuk  kebutuhan  pakan  alami. Pakan alami yang bisa ditumbuhkan di  tambak sebagai pakan utama ikan bandeng adalah kelekap, yaitu kumpulan berbagai  jenis  jasad dasar yang komponen utamanya  terdiri dari alga biru (Cyanophyceae) dan diatom (Bacillariophyceae).
Tahap  pertama  usaha  penumbuhan  kelekap  adalah  pengeringan  tanah  dasar. Apabila pengeringan  telah  dilakukan,  pupuk  organik  berupa  kotoran  ternak  dengan  dosis  2-3  ton/ha ditaburkan  secara  merata  di  pelataran,  kemudian  disusul  pemupukan  anorganik  (buatan) berupa Urea 75-100 kg/ha, TSP 40-50 kg/ka ditaburkan  secara merata di pelataran. Tambak diairi  macak-macak  dengan  tinggi  air  sekitar  5  cm  dan  diberakan  selama  satu  minggu. Selanjutnya dilakukan pengairan secara bertahap, hari pertama setinggi 10 cm, hari kedua 20 cm, hari ketiga 30-40 cm dan dibiarkan selama kira-kira satu minggu sampai kelekap tumbuh subur. Selanjutnya air ditambahkan lagi hingga 40-50 cm dan tambak siap ditebari benih ikan bandeng. Pada waktu pengisian air, pintu air harus dipasang saringan yang cukup rapat untuk menghindari masuknya organisme predator.
Penebaran Benih 
  • Ukuran
Benih (nener)  ikan bandeng yang ditebar adalah benih yang berada dalam  tahap akhir masa  larva, yang secara alami dijumpai di perairan pantai dengan panjang  tubuh total 10-16 mm. Apabila penebaran  menggunakan  benih ikan bandeng yang dihasilkan dari panti pembenihan maka benih tersebut merupakan benih yang berumur 21-25 hari.
  • Padat tebar
Padat tebar yang baik untuk lama penggelondongan 40-60 hari adalah 10-12 ekor/m2. Sebelum penebaran dilakukan, benih perlu diaklimatisasi  terhadap kondisi  lingkungan  (suhu dan  salinitas)  medium  tambak  penggelondongan.  Pertama  sekali  benih  ditempatkan  dalam suatu  wadah,  kemudian  air  dari  tambak  sedikit  demi  sedikit  dimasukkan  ke  dalam wadah tersebut dengan selang melalui salah satu sisi wadah, sedangkan dari sisi  lain air dari wadah disipon  keluar  dengan  menggunakan  selang  yang  dilengkapi  saringan  sehingga  dengan demikian akhirnya kondisi suhu dan salinitas air dalam wadah menjadi sama dengan kondisi air dalam tambak. Setelah aklimatisasi benih selesai dilakukan, selanjutnya benih dapat ditebar ke tambak.
Pemeliharaan
  • Pengelolaan air
Kegiatan  rutin  setelah  penebaran  benih  adalah  pengamatan  untuk mempertahankan kualitas  air  yang  baik  dan  tersedianya  organisme  pakan  yang  cukup  di  dalam  tambak. Pengelolaan  kualitas  air  ditujukan  untuk memberikan  kondisi media  hidup  yang  optimal bagi pertumbuhan ikan. Selama  penggelondongan  harus  dijaga  agar  salinitas  dan  ketinggian  air  selalu  stabil  dan ketinggian air dipertahankan 40-50 cm. Laju penguapan dan curah hujan yang tinggi dapat menyebabkan salinitas berubah (berfluktuasi) dan kondisi seperti ini memungkinkan dapat menghambat  pertumbuhan  alga  dasar  dan  sebaliknya  dapat  menyuburkan  pertumbuhan jenis plankton lain yang tidak diinginkan sebagai pakan alami ikan bandeng.
Dalam  penggelondongan  nener  bandeng  yang  baik,  alga  dasar  tambak  tumbuh dengan  subur  dan  warna  airnya  yang  jernih.  Namun  apabila  jenis  plankton  lain  yang tumbuh  subur  seperti protozoa,  flagellata,  fitoflagellata dan  rotifera maka warna air akan berubah  menjadi  kuning  atau  coklat.  Akibatnya  kandungan  oksigen  dalam  air  menjadi semakin  rendah dan  akhirnya dapat menyebabkan kematian  ikan bandeng  secara massal. Oleh karena itu, perlu adanya penambahan/ penggantian air laut yang baru. Penggantian air dapat  dilakukan  secara  gravitasi  dengan  pemanfaatan  gerakan  air  pasang  surut  atau pompanisasi.
  • Pemupukan susulan
Setelah penebaran benih, kelekap  sebagai pakan alami  semakin  lama akan  semakin berkurang  sehingga  perlu  adanya  pemupukan  susulan  agar  kelekap  dapat  tumbuh secara kontinuinitas. Pemupukan susulan satu sampai dua minggu sekali, hal  ini  tergantung dari nilai  kesuburan tambak dan dimulai 2-3 minggu setelah  penebaran. Pupuk susulan  yang digunakan masing-masing Urea 15-25 kg/ha dan SP36 10-15 kg/ha dan  ditambah pupuk perangsang seperti Forest, Ladan, Ursal, dan lain-lain sebanyak  1 kg/ha.
  • Pengendalian hama dan penyakit
Hama di  tambak dapat dibagi dalam  tiga golongan yaitu; predator, kompetitor, dan organism penggangu.  Predator  terdiri  dari  burung, lingsang, reptil,  ikan  dan  manusia. Kompetitor termasuk ikan herbivora dan  beberapa jenis moluska. Organisme  penggangu terdiri dari berbagai species insekta dan cacing.
Cara pemberantasan hama yang  lazim dilakukan di  tambak adalah pengeringan dan penggunaan  beberapa  jenis  pestisida  maupun  racun  tanaman.  Tahap  pertama pemberantasan  hama  adalah  pengeringan  tanah  dasar.  Pengeringan  ini  selain  berfungsi mengoksidasi bahan organik dan mengeraskan tanah dasar juga membantu pemberantasan berbagai    ikan  liar,  moluska,  kepiting,  cacing  serta  organisme  hama  lainnya.  Apabila pengeringan  tidak dapat dilakukan secara menyeluruh, maka pada bagian yang  tergenang ditambahkan obat pemberantas hama. Untuk keperluan ini dapat digunakan Rotenon dalam bentuk akar tuba (Dheris sp) sebanyak 4-5 kg/ha. Selain itu, dapat juga digunakan Saponin dalam  bentuk  biji  (Camelia  sinensis)  sebanyak  25-30  kg/ha  atau  nikotin  dalam  bentuk serbuk tembakau dengan dosis 200-500 kg/ha.
  • Lama pemeliharaan
Penggelondongan nener bandeng biasanya sudah mencapai standar ukuran 7-10 cm setelah  masa  pemeliharaan  40-60  hari.  Ukuran  ini  merupakan  yang  tepat  sebagai gelondongan  untuk  penebaran  berikutnya  baik  untuk  tujuan  bandeng  umpan  maupun konsumsi.
  • Cara Panen 
Pemanenan dilakukan untuk tujuan pemeliharaan berikutnya,  oleh  karena  itu  hasil panen harus dalam keadaan hidup. Pemanenan dapat dilakukan pada pagi, sore atau malam hari. Pemanenan pada waktu air pasang dapat dilakukan dengan cara memasukkan air baru ke dalam tambak. Hal ini menyebabkan ikan-ikan bergerak menuju arah masuknya air dan berkumpul di dekat pintu air. Dengan menggunakan  jaring, prayang atau pukat  ikan-ikan digiring  menuju  pintu  air,  kemudian  secara  perlahan-lahan  lingkaran  jaring  diperkecil sehinggga ikan-ikan terkurung di dekat pintu. Penangkapan pada waktu air surut dilakukan terlebih dahulu mengurangi air  tambak sehingga air  tersisa di dalam caren sekitar 20 cm. Ikan digiring perlahan-lahan dan lingkaran diperkecil  sehingga  ikan  dapat  berkumpul dekat pintu.
Penangkapan  ikan  harus  dilakukan  sangat  hati-hati  untuk  mencegah kemungkinan  luka-luka pada  tubuh  ikan dan kehilangan sisik akibat gesekan. Jika  lokasi pengangkutan agak jauh, ikan perlu dipak terlebih dahulu dalam kantong plastik yang telah berisi air laut dengan kepadatan 25-50 ekor/liter sesuai ukuran ikan diberi oksigen dengan perbandingan air dan oksigen 1:1,5 atau 1:2 tergantung jarak jauh pengangkutan.

Selasa, 24 Januari 2017

PERAN, MANFAAT DAN FUNGSI HUTAN MANGROVE



 Peranan, Manfaat dan Fungsi Hutan Magrove dalam kehidupan masyarakat yang hidup di daerah pesisir sangat banyak sekali. Baik itu langsung dirasakan oleh penduduk sekitar maupun peranan, manfaat dan fungsi yang tidak langsung dari hutan mangrove itu sendiri.

 Tumbuhan yang hidup di hutan mangrove bersifat unik karena merupakan gabungan dari ciri-ciri tumbuhan yang hidup di darat dan di laut. Umumnya mangrove mempunyai sistem perakaran yang menonjol yang disebut akar nafas (pneumatofor). Sistem perakaran ini merupakan suatu cara adaptasi terhadap keadaan tanah yang miskin oksigen atau bahkan anaerob. Mangrove tersebar di seluruh lautan tropik dan subtropik, tumbuh hanya pada pantai yang terlindung dari gerakan gelombang; bila keadaan pantai sebaliknya, benih tidak mampu tumbuh dengan sempurna dan menancapkan akarnya.

 Menurut kamus Webster, habitat didefinisikan sebagai "the natural abode of a plant or animal, esp. the particular location where it normally grows or lives, as the seacoast, desert, etc". terjemahan bebasnya kira-kira adalah, tempat bermukim di alam bagi tumbuhan dan hewan terutama untuk bisa hidup dan tumbuh secara biasa dan normal, seperti pantai laut, padang pasir dan sebagainya. Salah satu tempat tinggal komunitas hewan dan tanaman adalah daerah pantai sebagai habitat mangrove. Di habitat ini bermukim pula hewan dan tanaman lain. Tidak semua habitat sama kondisinya, tergantung pada keanekaragaman species dan daya dukung lingkungan hidupnya.

 Telah banyak diketahui bahwa pulau, sebagai salah satu habitat komunitas mangrove, bersifat dinamis, artinya dapat berkembang meluas ataupun berubah mengecil bersamaan dengan berjalannya waktu. Bentuk dan luas pulau dapat berubah karena aktivitas proses vulkanik atau karena pergeseran lapisan dasar laut. Tetapi sedikit orang yang mengetahui bahwa mangrove berperan besar dalam dinamika perubahan pulau, bahkan cukup mengagetkan bila ada yang menyatakan bahwa mangrove itu dapat membentuk suatu pulau. Dikatakan bahwa mangrove berperan penting dalam ‘membentuk pulau’.

 Beberapa berpendapat bahwa sebenarnya mangrove hanya berperan dalam menangkap, menyimpan, mempertahankan dan mengumpulkan benda dan partikel endapan dengan struktur akarnya yang lebat, sehingga lebih suka menyebutkan peran mangrove sebagai “shoreline stabilizer” daripada sebagai “island initiator” atau sebagai pembentuk pulau. Dalam proses ini yang terjadi adalah tanah di sekitar pohon mangrove tersebut menjadi lebih stabil dengan adanya mangrove tersebut. Peran mangrove sebagai barisan penjaga adalah melindungi zona perbatasan darat laut di sepanjang garis pantai dan menunjang kehidupan organisme lainnya di daerah yang dilindunginya tersebut. Hampir semua pulau di daerah tropis memiliki pohon mangrove.

 Bila buah mangrove jatuh dari pohonnya kemudian terbawa air sampai menemukan tanah di lokasi lain tempat menetap buah tersebut akan tumbuh menjadi pohon baru. Di tempat ini, pohon mangrove akan tumbuh dan mengembangkan sistem perakarannya yang rapat dan kompleks. Di tempat tersebut bahan organik dan partikel endapan yang terbawa air akan terperangkap menyangkut pada akar mangrove. Proses ini akan berlangsung dari waktu ke waktu dan terjadi proses penstabilan tanah dan lumpur atau barisan pasir (sand bar). Melalui perjalanan waktu, semakin lama akan semakin bertambah jumlah pohon mangrove yang datang dan tumbuh di lokasi tanah ini, menguasai dan mempertahankan daerah habitat baru ini dari hempasan ombak laut yang akan meyapu lumpur dan pasir. Bila proses ini berjalan terus, hasil akhirnya adalah terbentuknya suatu pulau kecil yang mungkin akan terus berkembang dengan pertumbuhan berbagai jenis mangrove serta organisme lain dalam suatu ekosistem mangrove.

 Dalam proses demikian inilah mangrove dikatakan sebagai bisa membentuk pulau. Sebagai barisan pertahanan pantai, mangrove menjadi bagian terbesar perisai terhadap hantaman gelombang laut di zona terluar daratan pulau. Hutan mangrove juga melindungi bagian dalam pulau secara efektif dari pengaruh gelombang dan badai yang terjadi. Mangrove merupakan pelindung dan sekaligus sumber nutrien bagi organisme yang hidup di tengahnya.

 Daun mangrove yang jatuh akan terurai oleh bakteri tanah menghasilkan makanan bagi plankton dan merupakan nutrien bagi pertumbuhan algae laut. Plankton dan algae yang berkembang akan menjadi makanan bagi berbagai jenis organisme darat dan air di habitat yang bersangkutan. Demikianlah suatu ekosistem mangrove dapat terbentuk dan berkembang dari pertumbuhan biji mangrove.

Pada saat terjadi badai, mangrove memberikan perlindungan bagi pantai dan perahu yang bertambat. Sistem perakarannya yang kompleks, tangguh terhadap gelombang dan angin serta mencegah erosi pantai. Pada saat cuaca tenang akar mangrove mengumpulkan bahan yang terbawa air dan partikel endapan, memperlambat aliran arus air. Apabila mangrove ditebang atau diambil dari habitatnya di pantai maka akan dapat mengakibatkan hilangnya perlindungan terhadap erosi pantai oleh gelombang laut, dan menebarkan partikel endapan sehingga air laut menjadi keruh yang kemudian menyebabkan kematian pada ikan dan hewan sekitarnya karena kekurangan oksigen. Proses ini menyebabkan pula melambatnya pertumbuhan padang lamun (seagrass).

 Ekosistem hutan  mangrove memberikan banyak manfaat baik secara tidak langsung (non economic value) maupun secara langsung kepada kehidupan manusia (economic vallues). Beberapa  manfaat mangrove antara lain adalah:
  • Menumbuhkan pulau dan menstabilkan pantai.
Salah satu peran dan sekaligus manfaat ekosistem mangrove, adalah adanya sistem perakaran mangrove yang kompleks dan rapat, lebat dapat memerangkap sisa-sia bahan organik dan endapan yang terbawa air laut dari bagian daratan. Proses ini menyebabkan air laut terjaga kebersihannya dan dengan demikian memelihara kehidupan padang lamun (seagrass) dan terumbu karang. Karena proses ini maka mangrove seringkali dikatakan pembentuk daratan karena endapan dan tanah yang ditahannya menumbuhkan perkembangan garis pantai dari waktu ke waktu. Pertumbuhan mangrove memperluas batas pantai dan memberikan kesempatan bagi tumbuhan terestrial hidup dan berkembang di wilayah daratan. Akar pohon mangrove juga menjaga pinggiran pantai dari bahaya erosi. Buah vivipar yang dapat berkelana terbawa air hingga menetap di dasar yang dangkal dapat berkembang dan menjadi kumpulan mangrove di habitat yang baru. Dalam kurun waktu yang panjang habitat baru ini dapat meluas menjadi pulau sendiri.
  • Menjernihkan air.
Akar pernafasan (akar pasak) dari api-api dan tancang bukan hanya berfungsi untuk pernafasan tanaman saja, tetapi berperan juga dalam menangkap endapan dan bisa membersihkan kandungan zat-zat kimia dari air yang datang dari daratan dan mengalir ke laut. Air sungai yang mengalir dari daratan seringkali membawa zat-zat kimia atau polutan. Bila air sungai melewati akar-akar pasak pohon api-api, zat-zat kimia tersebut dapat dilepaskan dan air yang terus mengalir ke laut menjadi bersih. Banyak penduduk melihat daerah ini sebagai lahan marginal yang tidak berguna sehingga menimbunnya dengan tanah agar lebih produktif. Hal ini sangat merugikan karena dapat menutup akar pernafasan dan menyebabkan pohon mati.
  • Mengawali rantai makanan.
Daun mangrove yang jatuh dan masuk ke dalam air. Setelah mencapai dasar teruraikan oleh mikro organisme (bakteri dan jamur). Hasil penguraian ini merupakan makanan bagi larva dan hewan kecil air yang pada gilirannya menjadi mangsa hewan yang lebih besar serta hewan darat yang bermukim atau berkunjung di habitat mangrove.
  • Melindungi dan memberi nutrisi.
Akar tongkat pohon mangrove memberi zat makanan dan menjadi daerah nursery bagi hewan ikan dan invertebrata yang hidup di sekitarnya. Ikan dan udang yang ditangkap di laut dan di daerah terumbu karang sebelum dewasa memerlukan perlindungan dari predator dan suplai nutrisi yang cukup di daerah mangrove ini. Berbagai jenis hewan darat berlindung atau singgah bertengger dan mencari makan di habitat mangrove.
  • Manfaat bagi manusia.
Masyarakat daerah pantai umumnya mengetahui bahwa hutan mangrove sangat berguna dan dapat dimanfaatkan dalam berbagai cara untuk memenuhi kebutuhan hidup. Pohon mangrove adalah pohon berkayu yang kuat dan berdaun lebat. Mulai dari bagian akar, kulit kayu, batang pohon, daun dan bunganya semua dapat dimanfaatkan manusia. Beberapa kegunaan pohon mangrove yang langsung dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari antara lain adalah:
  • Tempat tambat kapal.
Daerah teluk yang terlidung seringkali dijadikan tempat berlabuh dan bertambatnya perahu. Dalam keadaan cuaca buruk pohon mangrove dapat dijadikan perlindungan dengan bagi perahu dan kapal dengan mengikatkannya pada batang pohon mangrove. Perlu diperhatikan agar cara tambat semacam ini tidak dijadikan kebiasaan karena dapat merusak batang pohon mangrove yang bersangkutan.
  • Obat-obatan.
Kulit batang pohonnya dapat dipakai untuk bahan pengawet dan obat-obatan. Macam-macam obat dapat dihasilkan dari tanaman mangrove. Campuran kulit batang beberapa species mangrove tertentu dapat dijadikan obat penyakit gatal atau peradangan pada kulit. Secara tradisional tanaman mangrove dipakai sebagai obat penawar gigitan ular, rematik, gangguan alat pencernaan dan lain-lain. Getah sejenis pohon yang berasosiasi dengan mangrove (blind-your-eye mangrove) atau Excoecaria agallocha dapat menyebabkan kebutaan sementara bila kena mata, akan tetapi cairan getah ini mengandung cairan kimia yang dapat berguna untuk mengobati sakit akibat sengatan hewan laut. Air buah dan kulit akar mangrove muda dapat dipakai mengusir nyamuk. Air buah tancang dapat dipakai sebagai pembersih mata. Kulit pohon tancang digunakan secara tradisional sebagai obat sakit perut dan menurunkan panas. Di Kambodia bahan ini dipakai sebagai penawar racun ikan, buah tancang dapat membersihkan mata, obat sakit kulit dan di India dipakai menghentikan pendarahan. Daun mangrove bila di masukkan dalam air bisa dipakai dalam penangkapan ikan sebagai bahan pembius yang memabukkan ikan (stupefied).
  • Pengawet.
Buah pohon tancang dapat dijadikan bahan pewarna dan pengawet kain dan jaring dengan merendam dalam air rebusan buah tancang tersebut. Selain mengawetkan hasilnya juga pewarnaan menjadi coklat-merah sampai coklat tua, tergantung pekat dan lamanya merendam bahan. Pewarnaan ini banyak dipakai untuk produksi batik, untuk memperoleh pewarnaan jingga-coklat. Air rebusan kulit pohon tingi dipakai untuk mengawetkan bahan jaring payang oleh nelayan di daerah Labuhan, Banten.
  • Pakan dan makanan.
Daunnya banyak mengandung protein. Daun muda pohon api-api dapat dimakan sebagai sayur atau lalapan. Daun-daun ini dapat dijadikan tambahan untuk pakan ternak. Bunga mangrove jenis api-api mengandung banyak nectar atau cairan yang oleh tawon dapat dikonversi menjadi madu yang berkualitas tinggi. Buahnya pahit tetapi bila memasaknya hatihati dapat pula dimakan. .
  • Bahan mangrove dan bangunan.
Batang pohon mangrove banyak dijadikan bahan bakar baik sebagai kayu bakar atau dibuat dalam bentuk arang untuk kebutuhan rumah tangga dan industri kecil. Batang pohonnya berguna sebagai bahan bangunan. Bila pohon mangrove mencapai umur dan ukuran batang yang cukup tinggi, dapat dijadikan tiang utama atau lunas kapal layar dan dapat digunakan untuk balok konstruksi rumah tinggal. Batang kayunya yang kuat dan tahan air dipakai untuk bahan bangunan dan cerocok penguat tanah. Batang jenis tancang yang besar dan keras dapat dijadikan pilar, pile, tiang telepon atau bantalan jalan kereta api. Bagi nelayan kayu mangrove bisa juga untuk joran pancing. Kulit pohonnya dapat dibuat tali atau bahan jaring.

Beberapa fungsi hutan mangrove dapat dikelompokan sebagai berikut: 

 A. Fungsi Fisik :
  1. Menjaga agar garis pantai tetap stabil
  2. Melindungi pantai dan sungai dari bahaya erosi dan abrasi.
  3. Menahan badai/angin kencang dari laut
  4. Menahan hasil proses penimbunan lumpur, sehingga memungkinkan terbentuknya lahan baru.
  5. Menjadi wilayah penyangga, serta berfungsi menyaring air laut menjadi air daratan yang tawar
  6. Mengolah limbah beracun, penghasil O2 dan penyerap CO2.
B. Fungsi Biologis :
  1. Menghasilkan bahan pelapukan yang menjadi sumber makanan penting bagi plankton, sehingga penting pula bagi keberlanjutan rantai makanan.
  2. Tempat memijah dan berkembang biaknya ikan-ikan, kerang, kepiting dan udang.
  3. Tempat berlindung, bersarang dan berkembang biak dari burung dan satwa lain.
  4. Sumber plasma nutfah & sumber genetik.
  5. Merupakan habitat alami bagi berbagai jenis biota.
C. Fungsi Ekonomis :
  1. Penghasil kayu : bakar, arang, bahan bangunan.
  2. Penghasil bahan baku industri : pulp, tanin, kertas, tekstil, makanan, obat-obatan, kosmetik, dll
  3. Penghasil bibit ikan, nener, kerang, kepiting, bandeng melalui pola tambak silvofishery
  4. Tempat wisata, penelitian & pendidikan. 

Sumber : http://ekologi-hutan.blogspot.com/2011/10/peranan-manfaat-dan-fungsi-hutan.html

Rabu, 18 Januari 2017

PENGARUH KUALITAS DAN KUANTITAS PAKAN TERHADAP LINGKUNGAN BUDIDAYA IKAN




            Teknik budidaya ikan secara intensif telah berkembang dengan pesat di masyarakat antara lain budidaya ikan dalam keramba jaring apung di waduk. Padat penebaran yang tinggi dan pemberian pakan secara intensif merupakan ciri dari budidaya ini. Masalah yang dapat terjadi akibat kegiatan ini adalah penurunan kualitas perairan dan kurang terjaminnya kelestarian dari usaha yang dilakukan. Hal ini antara lain terjadi apabila pemberian pakan yang dilakukan kurang tepat baik kualitas maupun kuantitasnya.
            Dalam budidaya ikan, pakan mempunyai peranan yang sangat penting. Pakan yang diberikan akan dimetabolisme untuk memperoleh energi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan aktivitas hidup ikan. Kualitas dan kuantitas pakan akan mempengaruhi sisa metabolisme, pakan yang tidak dicerna akan dikeluarkan dalam bentuk feses sedangkan pakan yang dicerna akan dimetabolisme. Sisa metabolisme ini akan dikeluarkan ikan melalui insang dan ginjal dalam bentuk ammonia, urine dan bahan buangan lainnya. Sisa pakan yang tidak termakan yang baik jumlah maupun caranya akan menumpuk di dasar perairan.
            Pembusukan bahan organik di dasar perairan baik yang berasal dari hail metabolisme organisme maupun penguraian bahan organik menyebabkan tercemarnya lingkungan perairan. Sampai batas tertentu, secara alami perairan maupun menanggulangi pengaruh kontaminan tersebut tetapi bila daya dukungnya terlewati maka akan mengakibatkan perairan tercemar. Selain itu, akan dihasilkan gas beracun yang mengakibatkan kehidupan ikan terganggu bahkan dapat mengakibatkan kematian secara massal.
Kualitas Pakan

Pakan yang baik untuk pembesaran ikan dalam keramba jaring apung adalah bentuk pellet yang tidak mudah hancur, tidak cepat tenggelam serta mempunyai aroma yang merangsang nafsu makan ikan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melilih pakan yaitu kandungan gizi pakan, sifat fisik, warna, dan aromanya. Berdasarkan hasil penelitian, kadar protein 26-28% dan kadar lemak 6-8% cukup baik untuk pembesaran ikan mas, nila dan gurame.

Sifat fisik pakan antara lain yaitu permukaan pellet halus dan licin serta bagian yang hancur (debu) dalam kemasan kurang dari 5%. Warna pellet tidak peputih-putihan (berjamur) dan tidak berbau tengik atau apek yang menandakan pellet telah disimpan lama atau dibuat dari bahan yang kurang baik kualitasnya. Pakan harus disimpan dalam tempat yang kering, tertutup dan lamanya penyimpanan tidak lebih dari 6 minggu.
Kuantitas Pakan
Jumlah pakan yang diberikan harus dapat dikonsumsi ikan secara utuh (keseluruhan) karena dapat mengurangi pencemaran perairan dan kepastian ikan memperoleh pakan sesuai dengan kebutuhannya pada setiap satu kali pemberian. Pemberian pakan harus memperhatikan agar pakan tidak lolos ke luar keramba, diberikan sedikit demi sedikit merata di permukaan air dengan luasan yang cukup. Selain itu, apabila suhu air relatif rendah, oksigen rendah, kesehatan terganggu atau ikan mengalami stres maka nafsu makan atau konsumsi pakan akan menurun.
Pengaruh Penggunaan Pakan Pada Lingkungan
Hasil buangan metabolisme pada ikan maupun penguraian sisa pakan akan meningkatkan konsentrasi nitrogen (N) dan fosfor (dalam bentuk fosfat) yang ada dalam perairan yang nilainya ditentukan oleh jumlah pakan yang masuk ke dalam perairan tersebut. Meningkatnya N dan P di perairan tenang akan merangsang terjadinya kelimpahan plankton. Hal ini akan mengakibatkan terjadinya persaingan antara ikan dan plankton dalam memperoleh oksigen di perairan menjadi rendah dan keadaan ini membahayakan ikan.
Nitrogen yang dibuang ikan ke perairan, 60-90% dalam bentuk ammonia yang sangat toksik dan berbahaya bagi ikan bahkan dapat menyebabkan kematian ikan secara massal terutama pada saat terjadi pembalikan air (umbalan). Kadar oksigen yang rendah dalam air akan mengakibatkan daya racun ammonia meningkat. Pada budidaya ikan konsentrasi ammonia bergantung pada kepadatan populasi, metabolisme ikan, pergantian air dan suhu.
Fosfor dan kalsium dibutuhkan ikan dalam jumlah yang lebih banyak dibandingkan dengan mineral penting lainnya baik untuk keperluan metabolisme maupun pertumbuhannya. Setiap jenis ikan memiliki kemampuan cerna fosfor yang berbeda dan ditentukan pula oleh sumber fosfor yang dikonsumsi. Penyerapan fosfor pada ikan yang berlambung lebih baik dibandingkan dengan ikan yang tidak berlambung seperti ikan mas. Fosfor merupakan salah satu mineral penting dalam mengatur produktivitas atau kesuburan perairan. 
Sebagian besar fosfor yang dibutuhkan ikan berasal dari pakan yang diberikan. Demikian pula, kadar ammonia yang dibuang ikan ke perairan dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas pakan. Usaha budidaya dapat lestari apabila kualitas pakan, jumlah, frekuensi dan cara pemberiannya serta penentuan jumlah keramba sesuai daya dukung perairan diperhatikan.

Sumber : Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar  Bogor
 

  MENGENAL IKAN SCORPION Mengingat permintaan ikan hias dari tahun ketahun terus meningkat, maka Ikan  Skorpion Volitan (Pterois ...